Melihat anak-anak kecil itu berlarian sambil tertawa riang, mengingatkanku pada masa lalu, masa kecil. saat kita bisa tertawa lepas, saat kegembiraan adalah kebiasaan, saat keriangan terpancar dari tiap detik waktu kita. jujur aku ingin kembali ke saat itu.
Tapi, inilah kehidupan, tak bisa diulang, atau dipercepat, lagipula, aku tak ingin meninggalkan saat ini, dimana setiap detiknya merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, meski kadang menyedihkan, bahkan menyakitkan, inilah jalan kehidupan.
Yah, ketika kulihat anak-anak itu lagi, yg berlarian ramai di lapangan, kuingat satu hal. keriangan, kegembiraan, kesenangan itu, adalah bagian dari kehidupan, itulah anugrah. semoga suatu saat nanti, kita akan kembali merasakan anugrah itu, meski itu bukan bagian dari kehidupan.
Muhammad Nurrafli
Jika permintaan maaf hanya diucapkan ketika Bulan Ramadhan atau Lebaran tiba, apa yang terjadi dengan 11 bulan lainnya? Atau dengan 364 hari lainnya dalam setahun? Apakah kita tak perlu meminta maaf dihari-hari yang lain itu? Tentu tidak kan? Saya berbicara seperti ini bukan karena saya terlambat mempostingkan permintaan maaf di bulan Ramadhan, tapi, saya hanya ingin memberikan penjelasan, bahwa kita pun tetap harus meminta maaf-apalagi jika berbuat salah-di hari-hari biasa, baik itu sebelum maupun setelah Ramadhan.
Cobalah lihat di serial TV Bajaj Bajuri, dimana ada tokoh bernama Mpok Minah yang selalu mengucap kata "Maaf" di awal setiap kalimat yang ia ucapkan, betapa indah lucu tutur katanya. Untuk itu, meski Ramadhan telah terlewat, saya ingin mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin meski bukan Selamat Idul Fitri 1431 H. Taqobalallahu minna wa minkum.
Pertama, kumohonkan maafku pada Yang Maha Mulia Allah Subhannahu wata'ala, atas seringnya aku lalai mematuhi perintahmu, atas betapa besarnya dosaku pada-Mu. Dan bagi Nabi Besar Muhammad Salallahualaihi wassalam, atas besarnya rasa kasih sayangmu pada umatmu dan betapa kecil pengorbanan yang telah kulakukan untukmu.
Kedua, permintaan maafku, bagi seseorang yang istimewa di hatiku, spesial di hariku, wanita yang sedia dan setia di sampingku, menjalani hidupnya bersamaku, bahagia bersamaku, bersedih bersamaku, menasehati di saat aku salah, dan tersakiti karenaku. Maaf, bila aku sering berbuat salah padamu.
Ketiga, untuk mamah, wanita yang rasa sayangnya seluas samudra, selalu merawat dan menyayangi sejak aku kecil hingga sekarang, meski kadang ku berbuat salah padanya, menyakiti dirinya. Untuk bapak, panutanku, penuntunku, pemberi jiwa lelaki dan pemberani yang mengalir dalam darahku, yang tak pernah lelah memberi nafkah bagi keluarganya. Untuk kakak, bidadari yang selalu berusaha ada disetiap aku membutuhkan bantuannya, bunga mekar yang siap mengharumkan nama keluarga, bangsa, dan agama. Dan untuk adikku, bocah kecil yang selalu mengisi tawa dan canda di hariku, lelaki polos dan tulus mencintai keluarganya.
Keempat, untuk teman, sahabat, pengajar, dan setiap jiwa yang kukenal dan mengenalku. Maaf atas setiap dzarah kesalahan yang pernah kubuat, aku hanyalah manusia yang bisa salah. Dan kebaikan jiwa kalian takkan pernah habis kurasakan. Semoga kalian selalu dalam lindungan selamat dan rahmat Allah SWT.
Maaf, hanya kata itu yang bisa kuungkapkan. Maaf, bila kuterlambat mengucapkannya. Dan, maaf, bukan maksud saya meniru Mpok Minah. Tapi, maaf, cuma mau minta maaf. ya Maaf..
Cimahi. Dari lubuk hati yang terdalam,
25 September 2010
Muhammad Nurrafli
Merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi kita sudah merupakan tradisi keagamaan yang membudaya. Idul Fitri, yang juga sering disebut Lebaran, adalah hari raya memperingati kembalinya manusia kepada fitrahnya. Fitrah adalah watak dasar kemanusiaan. Fitrah ini membuat manusia secara kodrati cenderung kepada kebenaran. Dengan telah berakhirnya menjalankan ibadah puasa, berarti kita sudah memenangkan perang melawan hawa nafsu. “Minal ‘aidin wal faizin”, selalu diucapkan di hari raya itu. Artinya, semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan yang menang.
Namun,, apa yang ditanyakan anak kita atau adik-adik kita ketika lebaran menjelang,, “Ayah, ibu mana baju dan sepatu baruku?”…
Sadarkah anda bahwa kita secara langsung atau tidak sudah membuat paradigma berfikir anak-anak kita bahwa lebaran itu adalah semua baru. Busana baru, sepatu baru dan segalanya serba baru.
Dan kadang berlebihan, rambut pun ditata dengan mode baru. Namun selama batas-batas kewajaan, hal tersebut merupakan materialisasi dari pada ekspresi jiwa atau manifestasi lahiriyah seorang yang kembali kepada fitrahnya dan berhasil menyelesaikan ibadahnya.
Kegembiraan dengan penampilan yang lain dari biasanya di hari lebaran ini merupakan suatu kesempatan berhibur diri bersama masyarakat yang merayakannya. Tapi jangan sampai maknanya jadi berubah. Tidak boleh berlebihan dan memaksakan diri. Karena akan menjadikannya suatu kesulitan bagi dirinya.
Misalnya, sampai terpaksa harus berhutang ke sana ke mari untuk mengada-adakan kebutuhan secara berlebihan. Ini justru bertentangan dengan makna Idul Fitri itu sendiri.
Ada kalanya orang segan keluar rumah di hari besar itu dikarenakan tidak berpakaian baru. Bahkan ada seorang yang kebetulan nasibnya kurang beruntung dibandingkan dengan saudara-saudaranya, enggan datang bersilaturahmi, sungkem kepada orangtuanya.
Ia malu oleh saudara-saudaranya itu. Betapa ia terbelenggu oleh sikap dan interpretasi yang salah dari makna lebaran yang sesungguhnya.
IDUL FITRI memiliki beberapa makna yang dalam.
Pertama, pada hari itu umat Islam telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa. Berarti sudah memenangkan perang melawan hawa nafsu. Karena itu mereka bergembira dan merayakannya. Mereka telah meningkatkan akhlak dan kepribadiannya dengan ibadah puasa tersebut.
Kedua, mempererat ikatan persaudaraan.
Pada saat-saat ini ikatan persaudaraan terasa begitu kokoh. Terasa ada sesuatu yang mempersatukan jiwa kita. Pada hari-hari lain, mungkin karena sibuk, kita jarang berkesempatan mengadakan reuni keluarga.
Tapi di saat Lebaran ini, kita sengaja menyempatkan diri. dari kakek-nenek, ayah-ibu, anak, menantu, cucu, sampai cicit berkumpul pada hari itu. Saling memaafkan bisa dilakukan kapan saja . Namun maaf-memafkan di hari raya itu mempunyai nilai tersendiri. Penuh haru dan hati yang lega.
Ketiga, rasa sosial, rasa kasih terhadap sesama. Tidaklah sempurna iman seorang Muslim, bila tidak mengasihi orang lain seperti mencintai dirinya. Itulah, maka Islam mewajibkan membayar zakat. Di samping kita masih berjuta yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Berdasarkan hal-hal di atas, terasa bahwa lebaran ini tidak akan menumbuhkan penghayatan yang sama intensitasnya pada diri setiap orang. Bagi mereka yang berpuasa sebulan penuh dengan dilandasi iman dan ikhlas sebagai upaya untuk memuliakan pribadi mereka masing-masing sebagai manusia, lebaran ini bisa diahayati dengan mendalam.
Selama bulan puasa, berusaha terus menerus mencoba mengenali diri sendiri dan instropeksi sehingga berusaha memperbaiki diri sendiri, dan mencoba menjadi lebih baik di hari yang fitri. Namun ada juga yang tidak ada penghayatan sama sekali akan makna puasa dan idul fitri sama seperti bulan-bulan lainnya.
Tidak merasakan spesialnya bulan Ramadhan hingga idul fitri datang hanyalah bermakna jabat tangan dan berkunjung-kunjungan, sebatas itu saja.
Bagaimana dengan anda?
Makna Idul Fitri yang sesungguhnya haruslah ditanamkan kepada anak sedari dini, agar tidak berubah maknanya dan hilang rasa spesialnya. Semoga bermanfaat.
sumber: percikaniman.org
Muhammad Nurrafli
Bahwa langit akan selamanya berwarna biru
Bahwa bunga akan selamanya mekar ke arah tertentu
Muhammad Nurrafli
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ اِلاَّ الصّيَامَ فَاِنَّهُ لِيْ وَ اَنَا اَجْزِى بِهِ، وَ الصّيَامُ جُنَّةٌ. وَ اِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَ لاَ يَصْخَبْ فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرُحُهُمَا، اِذَا اَفْطَرَ فَرِحَ وَ اِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. البخارى
“Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridoinya) dia berkata, bersabda Rasulullah Saw. bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum. Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Akulah yang membalasnya. Shaum adalah tameng. Maka pada hari seseorang melakukan shaum janganlah ia melakukan rofats dan janganlah bertengkar (berteriak). Jika seseorang mencacinya atau menantangnya berkelahi maka hendaklah ia katakan, ‘Sesungguhnya aku sedang shaum.’ Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang shaum lebih baik di sisi Allah dari pada wangi minyak kesturi. Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika ia berbuka, ia bahagia dengan bukanya. Dan jika ia berjumpa dengan Tuhannya ia berbahagia dengan shaumnya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih dan lafaz ini riwayat Bukhari)
Ramadhan merupakan fasilitas dari Allah untuk manusia agar dapat memuliakan dirinya dengan meningkatkan ibadah dan pengabdian kepada-Nya. Dalam salah satu firman-Nya, Allah Swt. berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)
Namun demikian, harus diingat bahwa Ramadhan bukan musim ibadah atau musim taat karena pada dasarnya ibadah tidak mengenal musim. Sepanjang masa adalah musim ibadah. Nah bila Ramadhan dianggap sebagai musim taat, maka selain Ramadhan akan dianggap musim (boleh) maksiat.
Tentu saja, antusiasme dan semangat beribadah ketika Ramadhan adalah sesuatu yang baik. Kecenderungan kaum wanita yang berbusana menutup aurat saat Ramadhan pun adalah sesuatu yang bagus. Yang tidak bagus adalah manakala Ramadhan berakhir, berakhir pula kemeriahan ibadah dan masjid-masjid kembali sepi. Yang tidak kalah menyedihkan adalah kembalinya ketelanjangan menghiasai kehidupan dan menyingkirkan pakaian islami yang hanya berumur tidak lebih dari sebulan. Boleh jadi, kondisi ini muncul sebagai akibat kesalahan dalam mempersepsikan datangnya bulan Ramadhan.
Perlu ditekankan di sini bahwa kita tidak boleh menganggap Ramadhan sebagai bulan ibadah. Namun demikian, dapatlah Ramadhan dengan segala fasilitas ibadah di dalamnya dikatakan sebagai sarana recharge (pengisian kembali enerji) yang bersiklus tahunan selain sarana recharge bulanan (seperti shaum sunnah ayyamul-bidh setiap tanggal 13, 14, 15 bulan hijriyah), sarana recharge pekanan (seperi shalat Jumat atau shaum sunat Senin-Kamis), dan sarana recharge harian (seperti shalat lima waktu).
Nilai-nilai (Hakikat) Shaum
Shaum, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya (seperti shalat, zakat, atau haji), mempunyai tujuan mulia. Artinya, ibadah itu disyariatkan oleh Allah Swt. bukan semata-mata dalam rangka agar pelakunya mendapatkan pahala. Jelas sekali disebutkan dalam ayat ke-183 surat Al-Baqarah di atas bahwa tujuan diwajibkannya shaum Ramadhan adalah agar pelakunya mencapai derajat takwa dan dengan ketakwaan itulah manusia menjadi mulia.
Pertanyaannya, bagaimanakah ibadah shaum Ramadhan ini dapat mengangkat derajat kita sehingga dapat menjadi muslim prestatif di hadapan Allah dan di hadapan seluruh penghuni alam semesta? Inilah nilai-nilai atau hakikat yang terkandung dalam ibadah shaum.
Pertama, shaum terkait erat dengan keimanan sejati karena ia adalah ibadah rahasia. Kita tidak akan bisa membedakan mana orang yang benar-benar shaum dengan orang yang hanya berpura-pura melaksanakan shaum. Ya, seseorang bisa saja makan dan minum di tempat yang tidak diketahui orang lain dan di depan kita ia mengaku sedang shaum. Pun seseorang yang benar-benar mengerjakan shaum bisa saja terlihat beraktivitas sebagaimana biasanya seperti manakala ia tidak mengerjakan shaum.
Jadi shaum adalah ibadah hati yang sangat rahasia antar seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika seseorang menahan makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan shaum padahal ia bisa dan mampu makan dan minum, hal itu merupakan bukti atas kesadaran dan keyakinan akan adanya pengawasan Allah Swt. Ini berbeda dengan ibadah lain yang dikerjakan dengan melakukan sesuatu. Ibadah shaum justru dikerjakan dengan menahan diri dari melakukan sesuatu.
Kedua, shaum mendidik seorang hamba untuk berorientasi masa depan. Seorang yang shaum akan dengan sukarela meninggalkan hal-hal yang halal demi mencapai dua kebahagian di masa yang akan datang, yakni masa berbuka dan masa berjumpa dengan Allah Swt. Jadi, orang yang melakukan shaum adalah mereka yang rela berkorban serta menderita sesaat untuk menggapai kebahagiaan yang akan datang. Hal tersebut adalah salah satu indikasi kuatnya keimanan pada hari akhirat, hari kehidupan yang hakiki.
Ketiga, shaum adalah pewujudan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta. Seorang yang melakukan shaum baru makan dan minum pada saat datang waktu magrib dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan (shaum) manakala datang fajar. Ini saja sudah merupakan ketundukan kepada Allah. Selain itu, seseorang yang shaum dari terbit fajar sampai magrib (kira-kira 13 jam), tidak akan pernah menawar agar shaum dilakukan dari jam sepuluh pagi (misalnya), yang penting lamanya sama yaitu 13 jam. Demikian pula halnya dengan anjuran makan sahur yang tidak akan dibantah meski keadaan tubuh saat itu yang tidak ingin makan. Semua kita lakukan karena tunduk dan patuh sepenuhnya kepada titah Allah Swt.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan shaum bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)
Keempat, shaum merupakan sarana pendidikan masyarakat. Terasa berat bagi seseorang saat shaum dilakukan seorang diri. Ini dapat kita rasakan saat kita melakukan shaum sunat. Hal tersebut akan berbeda manakala semua orang yang ada di lingkungan sekitar melaksanakan shaum. Setiap orang di lingkungan tersebut menjadi bersemangat melakukan shaum dan nyaris tidak ada keluhan. Ternyata, ibadah yang dilakukan secara bersama-sama (dengan seluruh atau sebagaian besar masyarakat) menghasilkan sebuah kenikmatan tersendiri. Dari suasana kebersamaan tersebut, muncul rasa persatuan, keterpaduan, serta kebersamaan dalam ketaatan kepada Allah Swt.
Itulah hikmah-hikmah yang dapat kita petik. Tentu saja, hanya Allah yang mengetahui esensi atau hakikat shaum itu sendiri. Namun demikian, dari hikmah-hikmah tersebut di atas saja, kita sudah dapat memahami dan tentu mengimanai bagaimana ibadah shaum Ramadhan menghadirkan ketakwaan.
Muhammad Nurrafli
![]() yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba 'alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba 'alaa alladziina min qablikum la'allakum tattaquuna |
| 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. |
![]() ayyaaman ma'duudaatin faman kaana minkum mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara wa'alaa alladziina yuthiiquunahu fidyatun tha'aamu miskiinin faman tathawwa'a khayran fahuwa khayrun lahu wa-an tashuumuu khayrun lakum in kuntum ta'lamuuna |
| 184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. |
![]() syahru ramadaana alladzii unzila fiihi alqur-aanu hudan lilnnaasi wabayyinaatin mina alhudaa waalfurqaani faman syahida minkumu alsysyahra falyashumhu waman kaana mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara yuriidu allaahu bikumu alyusra walaa yuriidu bikumu al'usra walitukmiluu al'iddata walitukabbiruu allaaha 'alaa maa hadaakum wala'allakum tasykuruuna |
| 185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. |
Muhammad Nurrafli
Untuk lebih mengenal bisa email raflisantoso@gmail.com atau jajangabraham@yahoo.com, tapi jangan deh. atau follow twitter saya tinggal klik logo twitter di pojok kanan atas .
Maaf kalau tulisannya jelek, soalnya bukan tulisan saya, ini font dari sananya.




